Melengkapi penguasaan Bolshevik atas sebuah negara dengan populasi 140 juta, dengan nama Diktator Proletariat, satu organisasi politik, Partai Komunis menjadi pemerintah absolut di Rusia. Diktator Proletariat bukanlah kediktatoran oleh kaum proletar. Jutaan rakyat tidak menjadi diktator. Tidak juga ribuan anggota partai bisa menjadi diktator. Berdasarkan wataknya kediktatoran terbatas pada beberapa orang. Semakin sedikit mereka, maka semakin kuat dan semakin menyatulah kediktatoran. Dalam praktek sesungguhnya diktator selalu berada dalam kekuasaan satu orang. Orang yang kuat itulah yang akan mengabulkan jumlah anggota persekongkolannya, tidak lain halnya dengan kaum Bolshevik.
Diktator sebenarnya adalah bukan proletariat, juga bukan Partai Komunis. Secara teori kekuasaan berada pada Komite Sentral partai, namun nyatanya dimiliki oleh lingkaran kecil dalam komite tersebut yang dikenal sebagai “Polit Biro”, sama halnya dengan Mussolini misalnya, dan bukan Partai Fasisnya adalah diktator di Italia. Itu merupakan pandangan dan ide yang digunakan Lenin sejak awal lahirnya Bolshevik sampai akhir hayatnya; dibawa ketika semua partai menentang opininya, begitu juga ketika Komite Sentral dengan sengit menentang usulannya.
Pada penjelasan pertama mereka, ketika Lenin terlihat selalu menang, kehendaknya akan selalu dituruti. Begitupun dalam setiap masa kritis dalam sejara politik Bolshevik. Hal ini tidak mungkin membantu sebab diktator selalu bermakna dominasi oleh personal terkuat, dengan supremasi kehendak tunggal.
Selama sejarah Partai Komunis, seluruh kediktatoran tidak dapat disangkal menunjukkan hal yang sama. Tulisan-tulisan kaum Bolshevik menunjukkan hal itu. Berikut ini cukup bukti untuk ditunjukkan selain beberapa peristiwa penting yang membenarkan pendapat saya.
Pada bulan Maret 1917, ketika Lenin kembali dari pengasingan di Switzerland, Komite Sentral memutuskan untuk memasuki koalisi pemerintahan yang dibentuk pasca penggulingan rezim Tsar. Lenin menentang kerjasama dengan Borjuasi dan golongan Menshevik yang pada saat itu ada dalam pemerintahan. Namun meskipun demikian Partai masih tetap bersikukuh dengan keputusannya dan Lenin sendirian dalam oposisi namun diselamatkan oleh wibawanya. Komite Sentral berubah pendapat dan beralih memihak Lenin.
Selanjutnya, bulan Juli 1917, Lenin menyerukan revolusi secepatnya menentang Pemerintahan Kerensky. Usulnya dikecam oleh banyak orang termasuk kawan-kawannya sendiri dan dianggap gegabah dan kriminal. Namun lagi, Lenin menang, meskipun di kubu Zinoviev, Kamenev, dan golongan kaum Bolshevik lain yang berpengaruh menolak rencana itu dan mengundurkan diri dari partai. Secara tiba-tiba, Putsch (percobaan penggulingan Kerensky) mengalami kegagalan dan mengorbankan banyak nyawa buruh.
Teror merah yang dimulai Lenin segera setelah dia berkuasa pasca Revolusi Oktober, mengkhianati kawan seperjuangannya tanpa alasan dan dikatakan sebagai pengkhianat revolusi. Namun untuk dendam protes para pejabat yang aktif dan anggota partai yang berpengaruh, Lenin mempunyai cara sendiri.
Selama Brest-Litovsk, lagi-lagi Lenin bersikeras untuk “perdamaian bersyarat” dengan Jerman, sementara Trostsky, Radek, dan pemimpin penting Bolshevik yang lain menentang syarat-syarat Kaiser yang dinilai merendahkan dan merusak. Sekali lagi Lenin berhasil.
“Kebijakan ekonomi baru” (the ”nep”) disampaikan Lenin pada partainya selama peristiwa Kronstadt ditentang Komite Sentral karena dianggap mementahkan hasil perjuangan revolusioner dan serangan kematian bagi komunis. Sesungguhnya itu adalah pemutarbalikan pemahaman revolusi dan kembali pada situasi awal perubahan besar bulan Oktober. Namun kehendak Lenin tetap dilaksanakan dan diambil sebagai keputusan dalam kongres Komunis IX yang diadakan di Moskow pada bulan Maret 1921.
Seperti yang telah diketahui, yang dianggap kediktatoran proletariat adalah kediktatoran Lenin.ia memerintah Politbiro, Politbiro ke Komite Sentral, Komite Sentral ke partai, partai ke proletariat dan seluruh rakyat. Populasi Rusia terhitung lebih dari ratusan juta; Partai Komunis memiliki kurang dari empat puluh ribu anggota; Komite Sentral beberapa kodi; Politbiro terhitung sekitar selusin; dan Lenin hanya satu. Tapi yang satu itu adalah diktator bagi kaum proletar.
Rusia adalah negara yang luas, membentang lebih dari separuh Eropa dan sebagian lagi di Asia yang dihuni oleh berbagai macam ras dan memiliki bahasa nasional yang berbeda-beda dengan berbagai tipikal psikologis, berbagai kepentingan dan pandangan hidup. Kita tahu apa yang telah terjadi dalam kediktatoran Tsar di negeri itu. Sekarang marilah kita lihat bagaimana kediktatoran “proletariat” berkuasa. Setelah lebih dari satu dekade pemerintahan Bolshevik di Rusia, kita bisa membuat perkiraan tentang dampak dan hasil yang telah dicapai. Mari kita hitung.
Secara politik tujuan revolusi adalah menghancurkan pemerintahan tirani dan penindasan untuk membebaskan rakyat. Pemerintahan Bolshevik adalah yang paling sewenang-wenang* The revolt of the Kronstadt sailors in March, 1921.(lihat The Kronstadt Rebellion, oleh penulis.)
Di Eropa, dengan perkecualian pemerintahan fasis Italia. Warga negara tidak punya hak yang mana pemerintah punya batasan untuk menghargai. Partai Komunis adalah monopoli politik, menganggap partai-partai dan gerakan-gerakan lain tidak sah. Tidak mengenal perlindungan pribadi dan tempat tinggal. Tidak ada kemerdekaan berpendapat dan pers. Meskipun di dalam partai ada sedikit perbedaan pendapat segera ditangkap dan dihukum penjara atau diasingkan. Seperti halnya nasib Trotsky dan para oposisi pengikutnya. Hak beropini tidak ditoleransi. Dibentuknya G.P.U, agen rahasia yang dikenal dengan Tcheka, adalah pemerintah luarbiasa dengan kewenangan kekuasaan tak terbatas atas kebebasan dan kehidupan rakyat. Hanya sebagian kecil mereka yang berada dalam partai dominan yang menikmati kebebasan dan hak istimewa. Namun juga “kebebasan” dibawah despotik terburuk: jika tidak ada yang bisa kamu katakan maka kamu benar-benar bebas untuk mengatakannya meskipun di tanah Mussolini. Seperti anggota terkemuka kongres komunis sebelumnya mengatakan, “masih ada ruang bagi seluruh partai politik di Rusia: Partai Komunis di pemerintahan, yang lain di penjara”
Tujuan dasar dari revolusi secara ekonomi adalah menghancurkan kapitalisme dan menciptakan Komunisme dan kesetaraan.
Kediktatoran Bolshevik diawali dengan membangun sistem upah yang tidak adil dan pembedaan ganjaran, diakhiri dengan mengenalkan kembali kepemilikan kapitalistik setelah dihancurkan oleh gerakan proletariat industri dan agraria. Hingga saat ini Rusia sebagian menjadi negeri kapitalistik dan sebagian privat kapitalistik.
Kediktatoran dan teror merah yang dilakukan terbukti sebagai faktor utama yang melumpuhkan kehidupan ekonomi negara. Kecongkakan Bolshevik menimbulkan kebencian rakyat. Kekejamannya mebuat massa sakit hati. Penindasan atas segala kemerdekaan mencabut elemen terbaik revolusi dan membuat mereka merasa hal itu menjadi urusan pribadi partai politik yang berkuasa. Menghadapi tirani baru sebagai ganti menanti kebebasan. Kaum buruh telah patah hati. mereka merasa hasil kerja revolusioner mereka telah direbut dan digunakan sebagai senjata untuk melawan mereka sendiri dan aspirasi mereka. Kaum proletariat melihat komite pabriknya tunduk pada tekanan Partai Komunis tidka berdaya untuk melindungi kepentingan mereka sebagai pekerja. Serikat buruh menjadi penyambung lidah dan pemancar bagi perintah Bolshevik dan kehilangan suaranya, tidak hanya dalam manajemen industri juga di pabriknya sendiri kerja dalam jam yang lama dengan upah rendah. Kaum pekerja akhirnya sadar bahwa revolusi sudah dirampas dari tangan mereka, soviet telah dikebiri segala kekuatannya, dan negara telah diatur oleh beberapa orang nun jauh di Kremlin sana, sama halnya saat kekuasaan Tsar. Tersingkir dari aktifitas kreatif dan revolusioner, hidup hanya mematuhi tuan baru, senantiasa dilecehkan kaum Bolshevik dan orang-orang Tcheka, dan dalam ketakutan protes terakhir selalu diakhiri dalam penjara atau hukuman mati, kaum pekerja menjadi sakit hati pada revolusi, meninggalkan pabrik dan mencari desa sejauh mungkin menghindari petugas yang ditakuti dan pada jatah roti terakhirnya. Hal ini akhirnya menghancurkan industri negara.